Perkataan Dzikir dibentuk dari akar kata Dzakara – Dzikran yang artinya
menyebut. Bila dengan bentuk ADZ-DZUKRU , ADZ-DZIKRATU, AT-TADZAKKARU “ Ingat “
ADZ-DZAKARU = Alat Fital lkai-laki , MUDZAKKAR = jenis jantan ( Laki-laki)
MUDZAKKARAH = beringat ingatan ( berdiskusi) dari keseluruhan arti kata yang
terkandung dalam kata Dzikir kita dapat merasakan ada makna tersirat yang
terkandung didalamnya yaitu merupakan aktivitas. Mengingat merupakan aktifitas
fikiran, alat vital dapat aktif diluar kontrol otak, laki-laki adalah jenis
yang kelamin yang lebih aktif sedangkan berdiskusi merupakan aktiftas bersama.
Karena adanya Potensial
Power didalam jiwa manusia yang mengalir kedalam tiga arah yang menuju kedalam
pikiran, kedalam hati dan kearah hawa nafsu maka hakikat zikir adalah meng ON
kan Power itu.
Al-Quran menjelaskan
sebagai berikut :
“ Orang-orang yang
berzikir kepada Allah SWT pada saat berdiri, duduk atau berbaring mereka
tafakkur ( befikir berfilsafat ) tentang ciptaan Allah dilangit dan dibumi (
Q.S. 3 Ali Imran : 191 ) ayat ini menjelaskan bentuk zikir dengan tafakkur
yaitu berfikir, berfilsafat untuk mengkaji/ menganalisa ayat-ayat Allah baik
yangKauniyah maupun yang Quraniyah.
Dalam ayat lain
dijelaskan “ Apakah belum sampai waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk
khusu qolbu mereka dalam berfikir kepada Allah SWT... (Q.S 57 Al-Hadid :
16)” ayat tersebut diatas menyatakan
bentuk dzikir dengan cara mengkhusukan hati . hati yang khusu artinya
hati yang tuntuk atau merendakan hari
atau hati yang penuh khidmat”
Dalam ayat lain di
jelaskan sebagai berikut “ Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah
kamu dimuka bumi dan carilah karunia Allah dan dzikirlah kepada Allah
sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung ( Q.S 62 Al-Jumuah : 10 ). Berdasarkan
ayat diatas dapat kita defenisikan bahwa cara lain berzikir kepada Allah yaitu
dengan beraktifitas kerja mencari karunia Allah SWT. Dzikir dengan cara yang
ketiga ini tidak dibahas didalam kitab ini sebab bisa anda lakukan dengan
mudah.